Rabu, 07 Januari 2015

Tokoh Pendidikan di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sudah sepatutnya menentukan masa depan suatu negara. Bila visi pendidikan tidak jelas, yang dipertaruhkan adalah kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Visi pendidikan harus diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang memiliki sasaran jelas, dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa. Karena itu, perubahan dalam subsistem pendidikan merupakan suatu hal yang sangat wajar, karena kepedulian untuk menyesuaikan perkembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sudah seyogyanya sistem pendidikan tidak boleh jalan di tempat, namun setiap perubahan juga harus disertai dan dilandasi visi yang mantap dalam menjawab tantangan zaman.

Awal mula adanya pendidikan di Indonesia dipelopori oleh para tokoh pendidikan. Tokoh-tokoh pendidikan itulah yang berperan penting dalam kemajuan dan perkembangan pendidikan di Indonesia. Beberapa tokoh pendidikan yang berpengaruh di Indonesia antara lain Ki Hajar Dewantara, R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, dan masih banyak lagi.

B. Rumusan Masalah

Siapa saja tokoh-tokoh pendidikan yang berpengaruh dalam bidang pendidikan di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui pengaruh para tokoh pendidikan terhadap perkembangan pendidikan di indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Tokoh-Tokoh Pendidikan di Indonesia

1. Raden Ajeng Kartini (1879-1904).

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

2. Raden Dewi Sartika (1884-1947)

Raden Dewi Sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884. Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia, pahlawan nasional, sekaligus tokoh panutan di kalangan masyarakat Sunda. Ia bersama Kartini adalah tokoh perempuan terkemuka Indonesia. Totalitasnya dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan di akui dan diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional sejak tahun 1966.

Dewi Sartika adalah putri pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas. Ayahnya seorang patih di Bandung. Kedua Orang tuanya adalah pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan di Ternate (Maluku). Setelah kedua orang tuanya di asingkan, Dewi Sartika kemudian di asuh pamannya (Patih Aria) yang tinggal di Cicalengka.

Dewi Sartika amat gigih memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Dirumahnya, Dewi Sartika mengajar anggota keluarga dan kaum perempuan disekitarnya mengenai berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, memasak, dan menjahit. Pada tanggal 16 Juli1904 beliau mendirikan Sakola Istri atau sekolah perempuan di Kota Bandung. Sekolah ini menjadi lembaga pendidikan bagi perempuan yang pertama kali di dirikan di Hindia Belanda. Tahun 1913 Sakola Istri kemudian diganti namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri. Tahun 1913 mendirikan organisasi Kautamaan Istri di tasikmalaya yang menaungi sekolah-sekolah yangdidirikan Dewi Sartika. Tahun 1929 Sakola Kautamaan Istri berganti nama lagi menjadi Sekolah Raden Dewi sartika dan oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunkan gedung baru yang besar dan lengkap.

Sejak kecil Dewi Sartika memang telah memiliki jiwa pendidik. Beliau sering mengajarkan baca tulis dan berlatih berbahasa Belanda kepada anak-anak para pembantu di Kepatihan. Pola pembelajaran yang dilakukan dengan cara sambil bermain sehingga ia amat disenangi anak-anak didiknya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika sejak kecil ini berdampak luas sehingga nama Dewi Sartika di kenal luas oleh masyarakat sebagai seorang pendidik, terutama di kalangan perempuan.

Dewi Sartika menikah tahun 1906, dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata yang juga berprofesi sebagai pendidik sehingga keduanya memiliki kesamaan visi dalam meajukan pendidikan di lingkungan masyarakatnya. Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947, Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan. Saat mengungsi inilah, Dewi Sartika sudah lanjut usia dan Wafat tanggal 11 September 1947 di Cinean Jawa Barat. Makam Beliau kemudian di pindahkan ke Bandung.

3. Ki Hajar Dewantara (1889-1959)


Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai oleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan).

Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Putera dari KPH. Suryaningrat dan cucu dari Pakualam III yang meninggalkan kebangsawananya untuk terjun dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan berjuang memperbaiki nasib rakyat.

Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda). Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelah itu, dia bekerja sebagai wartawan di Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan.

Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (25 Desember 1912) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun partai ini ditolak oleh pemerintah Belanda.

Kemudian, ia dan kawan-kawannya membentuk Komite Bumipoetra (1913) untuk melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Untuk membiayai pesta tersebut Pemerintah Belanda menarik uang dari rakyat jajahannya. RM Soewardi Soeryaningrat mengkritik lewat tulisannya “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).

Akibat tulisannya itu, RM Soerwardi Soeryaningrat dijatuhi hukuman buang ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jenderal Idenburg tanpa proses pengadilan. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisan untuk membela Soewardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya, keduanya pun terkena hukuman buang, Douwes Dekker ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo ke Banda.

Hukuman itu ditolak, mereka meminta untuk dibuang ke Negeri Belanda agar bisa belajar. Keinginan tersebut diterima dan mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Selama di negara kincir angin tersebut, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte dan kembali ke tanah air pada 1918.

Sekembalinya ke tanah air, bersama rekan-rekannya, RM Soewardi Soeryaningrat mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (3 Juli 1922). Perguruan ini mendidik para siswanya untuk memiliki nasionalisme sehingga mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Demi memuluskan langkahnya-langkahnya, RM Soewardi Soeryaningrat pun berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Sebagai seorang bangsawan yang berasal dari lingkungan Kraton Yogyakarta dan dengan gelar RM di depan namanya, dia kurang leluasa bergerak.

Aktivitas Tamansiswa pun ditentang oleh Pemerintah Belanda melalui Ordonasi Sekolah Liar pada 1932. Dengan gigih RM Soewardi Soeryaningrat pun berjuang hingga ordonansi itu dicabut. Sambil mengelola Tamansiswa, RM Soewardi Soeryaningrat tetap rajin menulis. Namun bukan lagi soal politik, melainkan soal pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Ki Hajar Dewantara bergabung ke Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Di organisasi tersebut, dia menjadi salah seorang pimpinan bersama Soekarno, Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Setelah Indonesia merdeka, ia pun dipercaya menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Berbagai aktivitasnya dalam memperjuangkan pendidikan di tanah air sebelum hingga Indonesia merdeka tersebut, membuatnya dianugerahui gelar doktor kehormatan oleh Universitas Gadjah Mada (1957).

Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922, pada mulanya bernama “National Onderwijs Institut Taman Siswa” di Yogyakarta. Secara lengkap bagian-bagian pendidikan pada Perguruan Taman Siswa ini adalah:

a. Taman Indria (setingkat dengan TK).

b. Taman Anak (setingkat kelas I-III sekolah Rendah).

c. Taman Muda (setingkat kelas IV-VI sekolah Rendah).

d. Taman Dewasa (setara SMP).

e. Taman Madia (setara SMA).

f. Taman Guru B-1 (mendidik calon guru untuk Taman Anak dan Taman Madia).

g. Taman Guru B-2.

h. Taman Guru B-3 (mendidik calon guru untuk taman Dewasa) Taman Guru B-3 ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A untuk Jurusan Ilmu Pasti dan Alam, dan Bagian B untuk Jurusan Budaya.

i. Taman Guru Indria (mendidik anak wanita yang ingin manjadi guru pada Taman Indria).

Asas-asas pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, sebagai berikut:

a) Asas kemerdekaan.

b) Asas kodrat alam.

c) Asas kebudayaan.

d) Asas kebangsaan.

e) Asas kemanusiaan.

Tujuan Pendidikan menurut Beliau adalah sebagai proses pembudayaan kodrat alam setiap individu yang kemampuan-kemampuan bawaan untuk dapat mempertahankan hidup, yang tertuju pada pencapaian kemerdekaan lahir dan batin, sehingga memperoleh keselamatan dalam hidup batiniah.

Ki Hajar Dewantara meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Kampung Celeban (Yogyakarta). Kemudian, atas jasa-jasanya, pendiri Taman siswa itu ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional. Ki Hajar Dewantara pun mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya, 02 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

4. Mohammad Syafei ( 1899-1969)

Mohammad Syafei lahir di Kalimantan pada tahun 1899. Perjuangan beliau juga dititikberatkan pada bidang pendidikan. Pada tahun 1922 beliau menjadi guru pada Sekolah Katini di Jakarta dan sejak itu aktifitasnya di bidang pendidikan terus bertambah. Sebagai seorang tokoh pendidikan, Mohammad Syafei berjasa besar dalam mendirikan sekolah yang diberinama “Indonesische Nederlanshe School” atau yang lebih dikenal dengan sebutan INS, di Kayuttanam Sumatera Barat.

Sementara itu INS yang kemudian merupakan singkatan dari “Indonesian National School” menitikberatkan pendidikanya kepada dunia kerja. INS menyelenggarakan pendidikan dalam jenjang:

a. Ruang Bawah, yakni setara dengan sekolah Rendah atau Sekolah Dasar. Lama pendidikanya 7 tahun.

b. Ruang Atas, yakni setara dengan sekolah menengah, lama pendidikanya 6 tahun.

Adapun tujuan sekolah yang diselengagarakan oleh Mohammad Syafei adalah:

a) Mendidik anak-anak agar mampu berpikir secara rasional.

b) Mendidik anak-anak agar mampu bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh.

c) Mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang berwatak baik.

d) Menanamkan rasa persatuan

Pendidikan menurut Syafei memiliki fungsi membantu manusia keluar sebagai pemenang dalam perkembangan kehidupan dan persaingan dalam penyempurnaan hidup lahir dan batin antar bangsa. Mohammad Syafei meninggal dunia pada tanggal 5 Maret 1969.

5. Kyai H. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan adalah orang yang mendirikan organisasi Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan agama islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam. Asas pendidikannya adalah islam dengan tujuan mewujudkan orang-orang yang berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta negara.

Ada 5 butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu:

a. Perubahan cara berpikir, ialah kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran untuk mengubah cara berpikir dan bertindak dari kebiasaan lama yang kurang tepat, untuk mencapai tujuan pendidikan.

b. Kemasyarakatan, artinya janganlah hanya mengembangkan aspek individu saja, melainkan juga aspek kemasyarakatan, agar pengembangan individu dan kemasyarakatan berimbang.

c. Aktivitas, anak harus menggunakan aktivitasnya sendiri untuk memperoleh pengetahuan. Dan harus pula melaksanakan serta mengamalkan semua hal yang telah diketahuinya.

d. Kreativitas ialah untuk memperoleh kecakapan, keterampilan, dan kiat guna menghadapi situasi baru secara tepat dan cepat.

e. Optimisme, anak-anak diberi keyakinan bahwa melalui pendidikan cita-cita mereka akan tercapai, asal dengan semangat dan berdedikasi mengerjakannya sesuai dengan yang digariskan oleh Tuhan.

Dan fungsi lembaga pendidikan ciptaan Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut :

a) Sebagai alat dakwah, baik kedalam maupun keluar anggota organisasi Muhammadyah.

b) Tempat pembibitan dan pembinaan kader, yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif sesuai dengan kebutuhan.

c) Merupakan wahana untuk melaksanakan amal para anggota organisasi.

d) harus memberi kesempatan berkembang, menjaga, dan merawatnya dengan sebaik-baiknya.

Pada usia 66 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember 1961.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kemajuan perkembangan di Indonesia tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh pendidikan. Tokoh-tokoh pendidikan itulah yang menjadi ujung tombak berdirinya sekolah-sekolah di Indonesia. Ki Hajar Dewantara, R.A. Kartini, Dewi Sartika dan tokoh pendidikan lainnya merupakan pelopor kemajuan bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan.

R.A. Kartini dan Dewi Sartika adalah Pahlawan pendidikan kaum wanita Indonesia dalam memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan Indonesia sehingga diberikan apresiasi pemerintah dengan memberinya gelar pahlawan nasional.

Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh yang sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai oleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan).

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sebagai proses pembudayaan kodrat alam setiap individu yang kemampuan-kemampuan bawaan untuk dapat mempertahankan hidup, yang tertuju pada pencapaian kemerdekaan lahir dan batin, sehingga memperoleh keselamatan dalam hidup batiniah.

B. Saran

Penulis mengharapkan makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk menambah wawasan para pembaca tentang Tokoh-Tokoh Pendidikan di Indonesia. Semoga dengan makalah ini dapat memotivasi para pembaca untuk lebih menghargai dan menghormati jasa-jasa para tokoh pendidikan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Abadi, adib. 2014. 5 Tokoh Pendidikan Indonesia.
Administrator.2009. R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara, Dua Tokoh Pendidikan Indonesia. http://www.itp-bkkbn.org/berita-69-ra-kartini-dan-ki-hajar-dewantara-dua-tokoh-pendidikan-indonesia.html . Diakses 10 Juni 2014.
Administrator.2009.Biografi Kartini. http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html. Diakses 17 Juni 2014

Perilaku Awal dan Karakteristik Peserta Didik serta Tujuan khusus Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting bagi seseorang, dengan adanya pendidikan di harapkan seseorang yang tidak tahu menjadi tahu selain itu dalam dunia pendidikan perlu sekali adanya faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak didiknya, faktor yang paling utama yakni guru. Guru adalah seseorang yang memiliki pekerjaan yang sangat mulia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagai calon gurukita hendaknya mengetahui bagaimana identifikasi serta karakteristik dari setiap peserta didik agar kita dapat mengetahui karakter apa yang dapat dijalankan dalam proses pembelajaran. Didalam makalah ini membahas mengenai karakter peserta didik, diharapkan dapat menjadi sebuah acuan sebelum kita memasuki dunia pekerjaan yakni sebagai guru.

1.2 Rumusan Masalah :


1. Apakah karakteristik peserta didik?

2. Bagaimana klasifikasi peserta didik?

3. Apa manfaat mempelajari karakter peserta didik?

4. Apakah bentuk-bentuk karakteristik peserta didik?

1.3 Tujuan Penulisan :

1. Mengetahui karakteristik peserta didik.

2. Mengetahui klasifikasi peserta didik.

3. Mengetahui manfaat mempelajari karakter peserta didik.

4. Mengetahui bentuk-bentuk karakteristik peserta didik.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perilaku Awal Peserta Didik


Kegiatan menganalisis perilaku awal peserta didik dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Karena itu, kegiatan menganalisis perilaku awal siswa merupakan proses untuk mengetahui perilaku yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pembelajaran bukan menentukan perilaku prasyarat dalam rangka menyeleksi siswa sebelum mengikuti pembelajaran atau pelatihan. Konsekuensi dari digunakannya cara ini adalah: titik mulai suatu kegiatan pembelajaran tergantung kepada perilaku awal siswa.

Jadi mengidentifikasi perilaku awal siswa/peserta didik adalah bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada peserta didik. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau TIK.

Perilaku awal merupakan salah satu variabel dari pengajaran. Variabel ini didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan peserta didik. Aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir yang telah dimiliki peserta didik.

Untuk melakukan kegiatan identifikasi perilaku awal peserta didik, maka kita harus mengetahui sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional yang antara lain adalah:

1. Siswa, mahasiswa dan yang lainnya

2. orang yang mengetahui kondisi seperti guru dan atasannya.

3. Pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran.

Berawal dari informasi-informasi tersebut, maka tingkat kemampuan populasi sasaran dalam perilaku-perilaku khusus yang diperoleh dari analisis instruksional, itu perlu diidentifikasi agar pengembangan instruksional dapat menentukan mana perilaku khusus yang sudah dikuasai peserta didik untuk diajarkan. Dengan demikian pengembangan instruksional dapat pula menentukan titik berangkat yang sesuai bagi peserta didik yaitu:

1. Aspek-aspek analisis pada kegiatan identifikasi perilaku awal dan karakteristik awal siswa.

Dalam hal ini ada empat aspek kepribadian peserta didik yang tergolong pada kegiatan identifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik yaitu:

a. Kemampuan dasar

b. Latar belakang pengalaman

c. Latar belakang sosial

d. Perbedaan individual

2. Teknik identifikasi perilaku awal siswa

Teknik untuk mengidentikasi perilaku awal siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, interview, observasi dan tes. Subjek yang memberikan informasi diminta untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penelitian (rating scales).

2.2. Karakteristik Peserta Didik

2.2.1. Pengertian Karakteristik

Karakteristik berasal dari kata karakter yang berarti tabiat watak, pembawaan atau kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Kata “karakter” tersebut berasal dari bahasa Inggris Character bermakna hampir sama dengan sifat, perilaku, akhlak, watak, tabiat dan budi pekerti. Sedangkan menurut Ron Kurtus, karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.

Peserta didik atau siswa adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran.

Jika dikaitkan pengertian karakteristik dengan pengertian peserta didik maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik peserta didik adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir dan kemampuan awal yang dimiliki atau dapat juga disimpulkan bahwa karakteristik peserta didik adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktifitas dalam meraih cita-citanya.

Karakter seseorang peserta didik baik disengaja ataupun tidak, didapatkan dari orang lain yang sering berada di dekatnya atau yang sering mempengaruhinya, kemudian ia meniru untuk melakukannya. Oleh karena itu, seorang anak yang polos sering sekali akan mengikuti tingkah laku orang tuanya atau teman mainnya, bahkan pengasuhnya. Seorang psikolog berpendapat bahwa karakteristik berbeda dengan kepribadian, karena kepribadian merupakan sifat yang dibawa sejak lahir dengan kata lain kepribadian bersifat genetik.

Beberapa karakter yang sudah kita ketahui antara lain pemarah, pemalu, pembohong, jujur, pengiri, munafik, penolong, penyabar, religius, matrealistis, egois, dermawan, sombong, pendiam, tanggung jawab, tidak tahu malu, penurut, otoriter, pendendam, tidak tahu diri dan lain sebagainya.

Karena karakteristik terbentuk dari proses meniru yaitu melalui proses melihat, mendengar dan mengikuti, maka karakter sesungguhnya dapat diajarkan secara sengaja. Oleh karena seorang anak bisa memiliki karakter yang baik atau juga karakter buruk tergantung sumber yang ia pelajari atau sumber yang mengajarinya.

Sejak dini siswa perlu diperkenalkan dengan berbagai perilaku positif diantara perilaku yang bisa dipercaya, tanggung jawab, perhatian, tidak suka berprasangka buruk, sering berbuat baik, mampu mengendalikan diri saat marah dan kecewa, bisa bekerja sama dengan temannya, dan sebagainya. Tentunya perilaku tersebut diperkenalkan secara bertahap dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari

2.2.2 Klasifikasi Karakteristik Peserta Didik

Pernahkan kita sadari bahwa siswa yang ada didalam kelas sangat beragam. Seperti halnya saat kita menonton film, di dalamnya terdapat karakter-karakter tokoh film yang beragam, maka di dalam kelas pun terdapat karakter-karakter siswa yang mungkin jauh beragam. Jika kita menyaksikan sebuah film laskar pelangi atau novelnya maka di sana kita akan menemukan 10 karakter siswa yang berlainan. Mulai dari latar belakang sosialnya, ekonomi kemampuan inteligen, bakat, motivasi, belajar, dan lain-lain.

Ragam karakteristik ini ternyata mempengaruh bagaimana hasil implementasi desain pembelajaran. Mungkin sebagian peserta didik sudah tahu apa yang kita sampaikan, namun sebagian lain belum tahu sama sekali. Oleh karenanya, mengenal karakteristik siswa sangatlah penting dalam proses pembelajaran. Mengenal karekteristik siswa tersebut misalnya dengan mengklasifikasikan karakteristik siswa yang ada dalam kelas berdasarkan:

1. Pribadi lingkungan yang terdiri dari umur, jenis kelamin, keadaan ekonomi, orang tua, kemampuan pra sekolah dan lingkungan tempat tinggal.

2. Psikis yang terdiri dari tingkat kecerdasan, perkembangan jiwa anak, modalitas belajar, motivasi, bakat, dan minat

2.2.3 Manfaat Klarifikasi Karakteristik Siswa

Dengan mengenal karakteristik siswa, maka dapat diketahui kualitas perseorangan dan menjadi petunjuk dalam mengelola strategi pembelajaran manfaat yang lain juga dapat dilihat di antaranya:

1. Guru dapat memperoleh tentang kemampuan awal siswa sebagai landasan dalam memberikan materi baru dan lanjutan.

2. Guru mengetahui tentang luas dan jenis pengalaman belajar siswa, hal ini berpengaruh terhadap daya serap siswa terhadap materi baru yang akan disampaikan.

3. Guru dapat mengetahui latar belakang siswa dan keluarga siswa. Meliputi tingkat pendidikan orang tua, sosial ekonomi, emosional dan mental sehingga guru dapat menyanjikan bahan serta metode lebih serasi dan efisien.

4. Guru dapat mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan dan aspirasi dan kebutuhan siswa.

5. Guru dapat mengetahui tingkat penguasaan yang telah diperoleh siswa sebelumnya.


2.3. Tujuan Khusus Pembelajaran ( Indikator )

2.3.1. Pengertian Indikator

Menurut Depag indikator adalah wujud dari kompetensi dasar yang lebih spesifik. Sedangkan E. Mulyasa Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda perbuatan dan respon yang dilakukan atau atau yang ditampilkan oleh peserta didik. Indikator juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan potensi daerah dan peserta didik dan juga dirumuskan dalam rapat kerja operasional yang dapat diukur dan diobservasi sehingga dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penyusunan atat penilaian.

Sedangkan menurut Darwin Syah indikator pembelajaran adalah karakteristik, cirri-ciri, tanda-tanda perbuatan atau respon yang dilakukan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa memiliki kompetensi dasar secara spesifik yang dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran dan juga dijadikan tolak ukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pokok bahasan atau mata pelajaran tertentu.

2.3.2 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Mengembangkan Indicator

Adapun dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1. Tuntuan kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam kompetensi dasar.

2. karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah.

3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan atau daerah.

2.3.3 Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Merumuskan Indikator

Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator

2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kerja yang digunakan dalam SK dan KD.

3. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.

4. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.

5. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.

6. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator yang mencakup ranah kognitif, efektif.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Identifikasi awal peserta didik adalah sebuah cara untuk mengetahui karater dari peserta didik, sehingga dengan adanya identifikasi awal ini kita bisa menerapkan cara dalam pembelajaraan yang akan dilakukan. Selain itu pada identifikasi awal peserta didik ini bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada peserta didik. Karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behavior) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.


DAFTAR PUSTAKA

Uno, Hamzah B. 2010. Desain Pembelajaran. Bandung: MQS PubhlishinG.

( di akses tanggal 29 Oktober 2014)

http://fikri-yogi.blogspot.com/2012/09/perilaku-awal-dan-karakteristik-peserta.html

( di akses tanggal 29 Oktober 2014 )

Selasa, 06 Januari 2015

ARAHAT MAHINDA

BAB I
PENDAHULUAN

“Pergilah kalian, demi kebaikan semua, demi kebahagiaan semua, demi manfaat, dan demi kesejahteraan semua, atas dasar belas kasih bagi dunia”.

Dalam kata-kata ini Sang Buddha memberi pesan kepada enam puluh Arahat pertama, dan melalui mereka untuk Sangha untuk sepanjang waktu. Mandat ini sepenuhnya dilakukan selama berabad-abad, dan dalam ketaatan untuk itu, Arahat Mahinda datang ke Sri Lanka.   

Ketika ditanya oleh Raja Tissa siapa mereka, Arahat menjawab,”Kami adalah samana, Oh Raja, Murid Raja Kebenaran. Atas dasar belas kasih padamu kami disini, kami berasal dari Jambudipa”. Pesan yang kami bawa adalah pesan dari Buddha Dhamma, jalan untuk pencapaian kebahagiaan waktu sekarang dan yang akan datang. Dari kebahagiaan yang bersifat sementara, menuju “Kebahagiaan tertinggi” keamanan tak tertandingi dari “Nibbana.”

Arahat Mahinda mengajarkan dhamma kepada raja Devanampiyatissa dan para pengikutnya. Raja dan rakyatnya sangat tertarik pada ajaran baru dan menerima ajaran Buddha. Ratusan sampai ribuan orang, baik laki-laki maupun perempuan menerima ajaran baru itu dan memasuki kehidupan Sangha sebagai bhikkhu maupun bhikkhuni. Banyak vihara didirikan untuk memberikan tempat perlindungan kepada mereka.

Ketika ratu Anula dan sejumlah wanita menginginkan menerima upasampada pabajja, karena waktu itu di Sri Lanka belum ada bhikkhuni sementara Vinaya melarang seorang bhikkhu mentasbihkan seorang bhikkhuni, maka kepada raja asoka dimohon dapat mengirimkan bhikkhuni untuk maksud tersebut dan bhikkhuni Sanghamitta dikirim ke Sri Lanka oleh ayahnya.

Dua peristiwa penting terjadi pada awal sejarah agama Budha di Sri Lanka adalah penanaman kembali cangkokan dahan pohon bodhi dari Bodhi Gaya dimana Sakyamuni Buddha memperoleh Penerangan Sempurna. Peristiwa yang kedua adalah dipindahkannya relik gigi Sang Buddha dari India ke Sri Lanka yang terjadi 500 tahun kemudian.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Kelahiran Mahinda

Ketika Pangeran Asoka dalam perjalanan menuju Ujjeni untuk memerintah di sana, ia berhenti di kota Vedisa di sana ia bertemu dengan seorang gadis bernama Devi, putri seorang pedagang. Ia jatuh cinta kepadanya dan menikahinya, dari pernikahan ini lahirlah seorang putra bernama Mahinda dan berselang dua tahun kemudian, seorang putri bernama Sanghamitta.

Sumber Pali menyebutkan bahwa Raja Asoka memiliki seorang putra bernama Mahinda dan putri bernama Sanghamitta, sedangkan sumber Sanskerta menyebut hanya seorang putra, yaitu Kunala. Berdasarkan salah satu prasastinya, Raja Asoka memiliki putra lain yang bernama Tivara.

B. Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta Memasuki Sangha

Raja Asoka mendanakan 96 koti uang di 84 ribu kota untuk membangun vihara. Raja Asoka memerintahkan seluruh raja di India untuk membangun vihara, dan ia sendiri membangun vihara yang disebut Asokarama. Setelah vihara selesai dibangun, raja Asoka mengadakan perayaan besar. Raja sangat gembira saat melihat perayaan keagamaan yang besar dan bertanya kepada para bhikkhu, “Yang Mulia, kedermawanan siapakah dalam ajaran Bhagava yang pernah sebesar kedermawanan saya?”

Bhikkhu Tissa Moggaliputta menjawab, “Bahkan pada masa kehidupan Bhagava tidak ada pemberi yang dermawan seperti anda.”

“Jika demikian, apakah ada pewaris ajaran (sasanadayada) Buddha yang seperti saya?”

Sang bhikkhu melihat bahwa putra raja yang bernama Pangeran Mahinda dan putrinya bernama Putri Sanghamitta dapat menjadi Arahant dan memelihara ajaran Sang Buddha sehingga ia berkata, “Bahkan pemberi dana besar-besaran seperti anda bukan pewaris ajaran, O penguasa di antara manusia, namun hanya disebut pemberi dalam hal materi. Tetapi ia yang melepaskan putra atau putrinya untuk memasuki Sangha merupakan seorang pewaris ajaran dan melebihi seorang pemberi dana.”

Karena raja sangat ingin menjadi seorang pewaris ajaran, ia bertanya kepada Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta yang berdiri di dekatnya: “Apakah kalian ingin menerima penahbisan, Anak-anak yang kusayangi? Penahbisan merupakan hal yang baik.”

Mereka menjawab, “Pada hari ini juga kami akan sangat senang untuk memasuki Sangha jika ayahanda menginginkannya. Bagi kami, bahkan bagi ayahanda, penahbisan kami akan mendatangkan berkah.”

Sejak Pangeran Tissa, adik Raja Asoka, melepaskan keduniawian dan menjadi bhikkhu, Pangeran Mahinda juga bertekad untuk menjadi bhikkhu, sedangkan Putri Sanghamitta bertekad menjadi bhikkhuni sejak suaminya, Aggibrahma, menjadi bhikkhu bersama dengan Pangeran Tissa. Walaupun raja menginginkan Pangeran Mahinda menjadi penerus tahta, namun sang pangeran berpikir bahwa kemuliaan menjadi bhikkhu akan jauh lebih besar daripada menjadi raja. Maka Raja Asoka mengizinkan Pangeran Mahinda dan Putri Sanghamitta memasuki kehidupan tanpa rumah. Saat ditahbiskan Pangeran Mahinda berusia dua puluh tahun dan Putri Sanghamitta berusia delapan belas tahun. Keduanya pun mencapai kesucian Arahat.

C. Persahabatan Raja Asoka dan Devanampiya Tissa

Pada masa pemerintahan Raja Asoka, Sri Lanka diperintah oleh seorang raja bernama Mutasiva yang kemudian digantikan oleh putranya, Tissa. Setelah menjadi raja, Tissa mengirimkan utusan yang membawa permata, batu-batu mulia, tiga jenis batang bambu, kulit kerang yang memutar spiral ke kanan, dan mutiara kepada Raja Asoka.

Utusan tersebut terdiri dari keponakan Raja Tissa bernama Maharittha atau Arittha yang merupakan perdana menteri kerajaan, seorang brahmana penasehat kerajaan, seorang menteri, dan seorang bendahara kerajaan. Dalam tujuh hari para utusan dari Sri Lanka tiba di Pataliputta dan menyerahkan pemberian dari raja mereka kepada Raja Asoka. Raja sangat gembira ketika menerima pemberian ini dan menganugerahkan gelar panglima tertinggi kerajaan (senapatti) kepada Maharittha, gelar penasehat kerajaan (purohita) kepada sang brahmana, gelar jenderal (dandanayaka) kepada sang menteri, dan gelar kepala saudagar (setthi) kepada sang bendahara.

Kemudian Raja Asoka mengirimkan pemberian balasan yang terdiri atas kipas, mahkota, pedang, payung, sepatu, ikat kepala, hiasan telinga, rantai, kendi, kayu cendana, pakaian, serbet, obat luka, tanah merah, air dari danau Anotatta, air dari sungai Gangga, kulit kerang, piring emas, tandu mewah, myrobalan, tanaman-tanaman obat, dan lain sebagainya. Selain itu, raja juga memberikan Dhammadana dengan mengirimkan pesan:

“Aku telah berlindung dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, aku telah menyatakan diriku sebagai pengikut awam dalam ajaran Sang Putra Sakya; berlindunglah, O yang terbaik di antara manusia, dengan hati yang yakin dalam permata yang paling berharga ini!” dan juga mengatakan kepada para utusan tersebut, “Nobatkan lagi sahabatku Tissa sebagai raja.”

Setelah tinggal selama lima bulan di Pataliputta, para utusan ini kembali ke Sri Lanka dan menyerahkan pemberian dari Raja Asoka serta menobatkan kembali Tissa sebagai raja sesuai dengan tradisi India 45. Setelah dinobatkan sesuai dengan tradisi India, Tissa memakai gelar Devanampiya sehingga ia kemudian dikenal sebagai Devanampiya Tissa.

D. Penyebaran Buddha Dhamma di Sri Lanka


Ketika Bhikkhu Mahinda ditugaskan untuk menyebarkan Buddha Dhamma ke Sri Lanka, ia melihat bahwa Raja Mutasiva saat itu sudah lanjut usia dan oleh sebab itu belum tepat waktunya untuk menyebarkan Dhamma ke sana. Maka, ia memutuskan untuk mengunjungi kerabatnya di Dakkhinagira bersama dengan empat bhikkhu lainnya dan Samanera Sumana, putra Sanghamitta. Selama enam bulan mereka mengajarkan Dhamma di Dakkhinagira.

Kemudian Bhikkhu Mahinda mengunjungi ibunya, Devi, di Vedisagiri dan mengajarkan Dhamma di sana. Anak dari saudara perempuan Devi yang bernama Bhanduka mencapai tingkat kesucian Anagami ketika mendengarkan Dhamma yang diberikan sang bhikkhu kepada ibunya. Satu bulan kemudian, setelah Devanampiya Tissa dinobatkan menjadi raja Sri Lanka, rombongan Bhikkhu Mahinda ditambah dengan upasaka Bhanduka pergi dengan terbang di udara ke Missakapabbata (Mihintale) di Sri Lanka.

Saat itu Raja Devanampiya Tissa sedang bersenang-senang bersama empat puluh ribu pengikutnya di Missakapabbata dalam suatu perayaan. Melihat seekor rusa jantan yang tak lain adalah dewa yang menyamar, raja mengejar rusa tersebut hingga akhirnya ia bertemu dengan Bhikkhu Mahinda. Kemudian sang thera mengajarkan Culahatthipadopama Sutta 46 kepada raja dan para pengikutnya. Pada akhir pembabaran Dhamma ini, raja dan para pengikutnya mengambil Tiga Perlindungan.

Setelah raja kembali ke kota dan berjanji akan mengundang para bhikkhu tersebut keesokan harinya ke istana. Bhikkhu Mahinda memerintahkan Samanera Sumana untuk mengumumkan ke seluruh Sri Lanka bahwa waktu mendengarkan Dhamma telah tiba dengan kekuatan batinnya. Pengumuman ini terdengar sampai ke alam brahma sehingga para dewa dari berbagai alam datang berkumpul. Bhikkhu Mahinda kemudian menguraikan Samacitta Sutta kepada perkumpulan dewa tersebut. Sutta ini pertama kali dikotbahkan oleh Bhikkhu Sariputta kepada perkumpulan dewa yang datang mengunjunginya.

Keesokan harinya di istana sang thera menguraikan Petavatthu, Vimanavatthu, dan Sacca Samyutta kepada Ratu Anula, adik ipar Raja Devanampiya Tissa, dan lima ratus wanita lainnya. Para wanita tersebut akhirnya mencapai tingkat kesucian Sotapanna.

Sang thera juga menguraikan Devaduta Sutta kepada para penduduk kota dan menyebabkan seribu orang di antara mereka mencapai tingkat Sotapanna. Penjelasaan Dhamma yang begitu terperinci sangat berkesan sehingga semua yang mendengarkan menjadi yakin akan ajaran Sang Tathagata. Bhikkhu Mahinda mendirikan Sangha dan Sasana yang akhirnya menjadi pusat keagamaan didunia.

Setelah beberapa waktu Raja Devanampiya Tissa berniat membangun stupa untuk menyimpan relik Sang Buddha. Bhikkhu Mahinda mengirim Samanera Sumana kembali ke Pataliputta untuk meminta semangkuk penuh relik Sang Buddha dari Raja Asoka. Setelah mendapatkan relik dari Raja Asoka, sang samanera pergi menemui Sakka, raja para dewa, untuk meminta relik tulang selangka kanan dari cetiya Culamani di surga Tavatimsa dan sang dewa memberikannya. Relik-relik ini kemudian disemayamkan di sebuah stupa yang dikenal dengan nama Thuparama.

Relik Sang Buddha diperoleh dari raja Asoka dan disimpan di Thuparama Dagoba yang merupakan bangunan pertama kali di kota suci Anuradhapura. Persembahan taman Maha Meghavana kepada anggota Sangha oleh raja adalah salah satu kejadian yang sangat penting, dimana di bangun Mahavihara dan pusat pendidikan agama Buddha. Para alumi dan sarjana yang sudah di didik di kirim menjadi Dhammaduta baik laki- laki maupun perempuan ke beberapa Negara Asia untuk menyebarkan agama Buddha. Pada hari itu juga orang- orang Burma, Thailand, Kamboja, Laos mengakui sangat berhutang budi pada pelayanan yang di berikan oleh para Dhammmaduta dari Sri Lanka. Seperti yang dikemukakan di atas kitab-kitab Pali terpelihara secara lengkap dan baik di pulau ini. Dari Sri Lanka, agama Buddha menyebar ke Burma, Kamboja, Siam, Laos sebagai agama Buddha Theravada. Sri Lanka bukan bersifat pasif sebagai penerima agama Buddha, melainkan juga aktif dengan menyumbangkan perkembangan agama Buddha melalui kitab-kitab atthakatha (komentar).

Kitab-kitab atthakatha (komentar) yang ditulis dalam bahasa Sinhala itu mempunyai nilai sangat penting. Hal ini terlihat dari banyaknya bhikkhu dari daratan India ke Sri Lanka pada abad-abad awal Masehi untuk mempelajarinya. Salah satu cerdik cendekia yang sekaligus filsuf Theravada yang menerjemahkan athakatha dari bahasa Sinhala ke dalam bahasa Magadhi (Pali) adalah Acarya Buddhagosa yang hidup pada abad 5 Masehi. Pada waktu itu agama Buddha dalam tradisi Pali sudah mulai surut popularitasnya. Banyak Acarya dan filsuf Theravada yang menuliskan karya-karya mereka dalam bahasa Sansekerta, misalnya Asvaghosa (abad pertama Masehi), Nagarjuna, Vasubandhu dan Dinnaga.

Meskipun kitab-kitab komentar (atthakatha) ditulis dalam bahasa Sinhala, namun bahasa Pali tetap merupakan bahasa agama Buddha di Sri Lanka. Pada abad ke-5 tersebut, di mana Buddhaghosa ditahbiskan sebagai bhikkhu di Bodhgaya oleh Mahasthavira Revata tetap perperangan teguh pada bahasa Pali.

E. Tradisi Theravada di Sri Lanka


Pulau Sri Lanka, dari ujung selatan India, memiliki luas sekitar 25.000 mil persegi dan berpenduduk tiga belas juta orang, di masa lalu, telah disebut Tambapanni, Sinhala, Lanka-Dhipa, dan Ceylon. Agama Buddha Theravada dipraktekkan oleh banyak penduduk, tradisi juga diikuti oleh Thailand, Burma, Laos, dan Kamboja.

Buddhisme pertama kali di bawa ke Sri Lanka oleh putra raja Asoka, Mahinda. empat biarawan lainnya, dan pelayan Mahinda. Raja Sri Lanka, Devanampiya Tissa, memiliki sebuah bangunan candi di ibukota Anuradhapura untuk Mahinda dan para pengikutnya untuk berlatih disana. Candi itu kemudian disebut Mahavihara dan menjadi pusat untuk sekte Mahaviharavasin di Sri Lanka. Cetiyapabbatavihara dibangun di Mihintaie, yang mana pertama kali Mahinda telah tiba. Adik Mahinda, bhikkhuni Sanghamitta, juga pergi ke Sri Lanka. Dia membawa ranting dari pohon Bodhi dan mendirikan Sangha Bhikkhuni di pulau tersebut. Buddhisme kemudian berkembang di Sri Lanka, dengan banyak bhikkhu dan bhikkhuni bergabung dengan ketertiban dan dengan dukungan kontribusi kekaisaran untuk pembangunan vihara-vihara.

Pembangunan vihara Abhayagiri di abad pertama SM sangat penting, karena Vihara ini menjadi dasar untuk kedua sekte utama Buddha Theravada di Sri Lanka. Perjuangan antara bhikkhu dari vihara Abhayagiri dan para bhikkhu dari Mahavihara terus mempengaruhi sejarah agama Sri Lanka untuk beberapa abad selanjutnya. Pada tahun 44 SM, Vattagamani Abhaya menjadi raja Sri Lanka. Namun, ia terpaksa melarikan diri tak lama kemudian oleh Tamil. Lima belas tahun kemudian ia disempurnakan tahta dan memerintah selama dua belas tahun (29-17 SM). Pada tahun 29 SM, ia memiliki bangunan vhiara Abhayagiri dan disajikan untuk Mahatissa tertua-siapa bhikkhu Mahavihara sebelumnya diusir dari biara mereka. Ketika Mahatissa pergi untuk tinggal di vihara Abhayagiri, ia didampingi oleh sejumlah bhikkhu dari Mahavihara, sehingga mengarah ke perpecahan antara kedua kelompok.

Selama pemerintahan Vattagamani Abhaya, kanon Buddhis, yang secara tradisional telah ditularkan melalui menghafal dan pembacaan, akhirnya ditulis. Lima ratus bhikkhu dari sekte Mahavihara berpartisipasi dalam sesi penyalinan. Mereka tidak menerima bantuan dari raja karena ia mendukung sekte Abhayagiri. Para bhikkhu akan membacakan karya-karya mereka telah hafal dan bhikkhu lain kemudian akan memverifikasi akurasi mereka. Selanjutnya, bacaan diedit dan dituliskan. Pada saat ini, kanon terdiri dari Tripitaka (sutra, vinaya, dan Abhidharma) dan komentar. Keputusan untuk menempatkan kanon ke dalam bentuk tulisan merupakan langkah besar dalam mencapai formulasi yang pasti isinya.

Sementara itu, sekte Abhayagiri telah menyambut Sekolah Vajjiputtaka tertua di India bernama Dhammaruci dan murid-muridnya ke vihara mereka. Sekte Abhayagiri akibatnya kadang-kadang dikenal sebagai sekte Dhammaruci. Selama tahun berikutnya, sekte Abhayagiri memelihara hubungan erat dengan India Buddha dan mengadopsi banyak ajaran baru dari India. Sebaliknya, sekte Mahavihara sepenuhnya mempertahankan tradisi Buddhis Theravada sampai hari ini.

Selama pemerintahan Voharika Tissa (269-291) sejumlah India penganut Vetultavada sekte Mahayana Buddhisme datang ke Sri Lanka dan diizinkan untuk tinggal di Vihara Abhayagiri oleh para bhikkhu, tapi raja cepat mengusir para bhikkhu India dari Sri Lanka. Bhikkhu Vetullavada kemudian menegaskan kembali pengaruhnya di Vihara Ahhayagiri. Sebagai protes, sekelompok bhikkhu dari Abhayagiri meninggalkan vihara dan mendirikan sebuah sekte ketiga di Dakkhipagiri selama pemerintahan Gothabhaya (309-322). Kelompok ini, yang dikenal sebagai sekte Sagaliya, adalah terkait dengan vihara Jetavan. Raja Gothabhaya memiliki enam puluh bhikkhu Vetullavada ditangkap, diusir dari urutan, dan dideportasi ke India. Kemudian, Raja Mahasena (334-361) menekan sekte Mahavihara, yang mana kemudian memasuki masa penurunan panjang. Sekte Abhayagiri, sebaliknya, makmur Selama pemerintahan Siri Meghavanna (362-409) peninggalan Buddha, salah satu giginya, dibawa ke Sri Lanka dari Kalinga di India dan diabadikan dalam vihara Abhayagiri. Pada abad kelima masa pemerintahan Mahanarna (409-431), yang komentator besar Buddhaghosa datang ke Sri Lanka. Dia tinggal di Mahavihara, di mana ia menulis komentar pada Tripitaka dan eksposisi umum tentang doktrin dan praktek Buddhis. Menurut Culavamsa (37: 215-246), Buddhaghosa adalah seorang Brahman yang berasal dari sekitar tempat Buddha mencapai pencerahan di India tengah. Menurut sumber-sumber Burma, ia adalah penduduk asli Thaton, Burma, yang bepergian ke Sri Lanka 943 tahun setelah Buddha wafat pada masa pemerintahan Raja Mahanarna. Beasiswa baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa Buddhaghosa mungkin berasal dari India Selatan. Apapun hal mungkin, dapat dipastikan bahwa Buddhaghosa memang datang ke Sri Lanka dari negara asing, tinggal di Mahavihara, dan di dukung tradisi Mahavihara. Selain itu, ia menulis Visuddhimagga (Jalur Pemurnian) dan bagian dari komentar rinci tentang kanon Buddha berdasarkan karya yang lebih tua di tradisi Theravada. Menurut beberapa sumber, dia menerjemahkan komentar Sinhala lama ke Pali. Setelah ia menyelesaikan tulisannya, ia kembali ke negara asalnya. Formulasi Buddhaghosa dari doktrin Theravada tetap standar yang sampai saat ini.

Persaingan antara Mahavihara dan sekte Abhayagiri berlangsung selama berabad-abad. Secara umum, banyak penguasa tampaknya telah didukung sekte Abhayagiri. Sekte Mahavihara, bagaimanapun, berhasil mengalami banyak kesulitan dan melestarikan bentuk murni dari doktrin Theravada dan disiplin monastik. Selama paruh pertama abad kedelapan, Mahayana dan Esoterik Buddhisme dipraktekkan di Sri Lanka. Dua dari para bhikkhu yang bertanggung jawab untuk menyebarkan agama Buddha Esoteric di China, Vajrabodhi dan Amoghavajra, mengunjungi pulau.

Pada paruh pertama abad kesebelas selama pemerintahan Mahinda V, ketika Sri Lanka diserang oleh dinasti Saivite Chola Selatan India, ibukota dan vihara-vihara Budha berkurang menjadi reruntuhan. Setelah setengah abad pertempuran, Raja Sri Lanka Vijayabahu I (1059-1113) memaksa Chola untuk meninggalkan pulau itu, dipulihkan monarki dan mengundang buddhisme tertua dari Burma untuk mengembalikan agama Buddha di Sri Lanka.

Pada abad kedua belas, Raja Parakkamabahu I (1153-1186) para bhikkhu dekaden di sekte Mahavihara, Abhayagiri, dan Jetavana dan dimurnikan agama Buddha tertua di Sri Lanka. Buddhisme Theravada ortodoks dari sekte Mahavihara selanjutnya mendapat dukungan pemerintah, dan sekte Abhayagiri benar-benar dilarang, tidak pernah mendapatkan timbal balik. Ini menandai berakhirnya sepuluh abad persaingan antar sekte. Sekte Mahavihara dan Tradisi Theravada ortodoks terus mendominasi Buddhisme Sri Lanka sampai hari ini.

Pada abad berikutnya, pulau diserbu oleh Chola, Portugis, Belanda, dan Inggris. Pada abad kedelapan belas, Raja Kittisiri Rajasitpha mengundang sepuluh bhikkhu dari Thailand untuk membantu memulihkan agama Buddha tertua. Kemudian bhikkhu , diundang ke Sri Lanka untuk memperkuat pesan. Hari ini Buddhism Sri Lanka dibagi menjadi sejumlah persaudaraan menelusuri asal-usul mereka ke misi ini dari Asia Tenggara. Persaudaraan utama ialah Siyam, Kalyani, Amarapura, dan Ramanna.

F. Penanaman Sri Maha Boddhi

Ketika Maha Mahinda telah menanam keyakinan di negeri ini dan terdapat Bhikkhu Sasana, muncul usaha dari kaum wanita untuk masuk kedalam persaudaraan para Bhikkhuni. Ratu Anula dan para wanita lainnya ingin ditahbiskan sebagai bhikkhuni, namun Bhikkhu Mahinda dan para bhikkhu lainnya tidak dapat menahbiskan mereka karena penahbisan bhikkhuni harus dilakukan oleh Sangha Bhikkhuni. Selain itu, Raja Devanampiya Tissa juga ingin menanam pohon Bodhi di ibukota Anuradhapura. Oleh sebab itu, Bhikkhu Mahinda meminta Raja Devanampiya Tissa mengirim pesan kepada Raja Asoka untuk mengundang Bhikkhuni Sanghamitta dan mendatangkan cabang dari pohon Bodhi.

Raja Devanampiya Tissa mengutus Arittha ke Pataliputta untuk melaksanakan tugas ini. Sesampainya di Pataliputta, Arittha dan rombongannya menemui Raja Asoka dan mengatakan tujuan kedatangan mereka. Raja Asoka sangat berat hati untuk melepaskan Bhikkhuni Sanghamitta, putrinya sendiri, apalagi setelah putranya, Bhikkhu Mahinda, dan cucunya, Samanera Sumana, telah meninggalkannya. Namun karena ini bertujuan untuk penyebaran Dhamma di Sri Lanka, Raja Asoka pun menyetujuinya.

Untuk masalah pohon Bodhi, atas saran menteri Mahadeva, raja bertanya kepada Sangha apakah cabang dari pohon Bodhi boleh dikirimkan ke Sri Lanka. Mewakili Sangha, Bhikkhu Tissa Moggaliputta menyetujui hal ini. Bersama dengan para pasukannya dan ditemani oleh perkumpulan bhikkhu, Raja Asoka pergi menuju Bodhi Gaya dengan membawa sebuah vas untuk menaruh cabang pohon Bodhi. Setelah menghormati pohon Bodhi dengan berbagai persembahan, mengelilinginya tiga kali dengan berputar ke kiri dan bernamaskara, raja dengan sungguh-sungguh berseru, “Jika pohon Bodhi yang agung ini harus pergi menuju Lankadipa (pulau Sri Lanka) dan jika saya benar-benar kokoh tak tergoyahkan dalam ajaran Buddha, maka cabang selatan pohon Bodhi agung terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas ini.”

Secara ajaib, cabang selatan pohon Bodhi terpotong dengan sendirinya dan jatuh ke dalam vas emas yang telah disediakan. Kemudian berbagai keajaiban terjadi di sekitar pohon Bodhi. Raja sangat gembira dengan keajaiban-keajaiban ini sehingga mengadakan penghormatan besar-besaran terhadap cabang pohon Bodhi tersebut selama berminggu-minggu. Setelah itu cabang pohon Bodhi tersebut dipercayakan kepada Bhikkhuni Sanghamitta dan para bhikkhuni lainnya untuk kemudian bersama-sama dibawa Arittha ke Sri Lanka.

Kepada Arittha, Raja Asoka berpesan, “Tiga kali aku telah menghormati pohon Bodhi dengan menganugerahkan gelar raja kepadanya. Demikian juga sahabatku Tissa harus menghormatinya dengan menganugerahkan gelar raja kepada pohon Bodhi.” Lalu Arittha dan Bhikkhuni Sanghamitta menaiki kapal yang berlayar ke Sri Lanka. Tetes air mata Raja Asoka mengalir keluar ketika ia memandang cabang pohon Bodhi yang perlahan-lahan menghilang dari garis cakrawala bersama dengan putrinya tercinta. Bahkan ia terus meratap sedih setelah kembali ke istana.

Selama perjalanan menuju Sri Lanka, gelombang laut yang berjarak satu yojana di sekeliling kapal menjadi tenang, bunga-bunga teratai yang memiliki lima warna bermekaran di mana-mana dan berbagai alunan alat musik bersenandung di udara. Para dewa memberikan berbagai persembahan kepada pohon Bodhi, namun para naga berusaha merebut pohon Bodhi dari tangan Bhikkhuni Sanghamitta. Sang bhikkhuni dengan kekuatan batinnya berubah wujud menjadi burung garuda yang ditakuti para naga. Kemudian para naga memohon agar pohon Bodhi dapat dibawa untuk dihormati di alam naga selama seminggu lalu dikembalikan kepada sang theri. Permohonan ini pun dikabulkan.

Memasuki kota dari gerbang utara, cabang pohon Bodhi dibawa melalui gerbang selatan ke tempat yang telah dipilih untuk penanamannya. Di hadapan Bhikkhu Mahinda, Bhikkhuni Sanghamitta, dan para bangsawan lainnya, Raja Devanampiya Tissa menanam pohon Bodhi pada petak yang telah ditentukan. Pohon tersebut ditanam dengan upacara yang megah di Taman Mahameghavana di Anuradhapura dan menerima penghormatan dari jutaan umat. Pohon ini juga merupakan pohon tertua yang tercatat di dunia. Anakan dari pohon ini telah ditanam di berbagai tempat di pulau dan beberapa juga ditanam di tanah asing.

Dalam hubungan ini, harus diingat bahwa penghormatan atau pemujaan apapun di bawah bayang-bayang pohon Bodhi, bukan untuk menghormati sebuah pohon yang merupakan benda mati. Hal ini dilakukan untuk menghormati apa yang mewakili pohon tersebut. Yakni Buddha tertinggi, yang mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi. Pohon itu melambangkan cara hidup pertapa Gotama hingga mencapai Pencerahan.

Pohon ini dikenal dalam bahasa Pali sebagai assattha, atau dalam bahasa latin disebut Ficus religiosa. Sejak pencerahan berlangsung di bawah pohon ini, kemudian dikenal sebagai Bodhi (di Sinhala ‘Bo’), yang berarti pencerahan. Oleh karena itu, secara harfiah pohon Bodhi berarti “Pohon Pencerahan” atau “Pohon Kebijaksanaan.”

Ratu Anula dan para wanita lainnya pun dapat ditahbiskan menjadi bhikkhuni di bawah Bhikkhuni Sanghamitta. Sangha Bhikkhuni berkembang dengan baik di negeri ini serta para Bhikkhuni Sinhala berlayar jauh ke Tiongkok dan mendirikan sangha Bhikkhuni di negeri itu. Sanghamitta memberikan upasampada tidak hanya kepada putri Anula dan anggota kerajaan serta kelompok masyarakat yang tertinggi, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat yang bergabung dalam sangha Bhikkhuni. Mengikuti jejak kaki Sang Buddha, memperlakukan kaum wanita dengan ketegangan dan kesopanan dan menunjukan kepada mereka jalan kedamaian, kemurnian, dan kesucian. Dengan seluruh kekuatannya Sanghamitta mengangkat derajat kehidupan kaum wanita menjadi lebih tinggi. Dengan kesetiaan, keberanian, dan tak putus-putusnya ia bekerja untuk meningkatkan moral, intelektual, dan spiritual kaum wanita dinegeri ini.

Demikianlah akhirnya Buddha Dhamma dapat berkembang di Sri Lanka lengkap dengan Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni-nya.

G. Jaya Sri Maha Bodhi (Pohon Bodhi)

Pohon tertua yang masih hidup (dari semua jenis) yang diketahui tanggal penanamannya: Jaya Sri Maha Bodhi, sebuah pohon Bodhi di Sri Lanka, dibawa oleh Sanghamitta adik dari Maha Mahinda dan ditanam pada tahun 288 SM.

Jaya Sri Maha Bodhi adalah pohon beringin sakral yang terdapat di Anuradhapura, Sri Lanka. Pohon tersebut merupakan anak pohon dari pohon Bodhi bersejarah dimana Sang Buddha mencapai penerangan sempurna. Pohon tersebut ditanam pada tahun 288 SM, dan merupakan pohon yang ditanam manusia yang paling tua di Bumi dengan tanggal penanaman yang diketahui.

Pohon tersebut ditanam di daerah tinggi sekitar 6,5 m (21,3 kaki) diatas tanah dan dikelilingi pagar. Pada saat ini, pohon tersebut adalah salah satu relik yang paling sakral dari umat Buddha di Sri Lanka dan dihormati oleh umat Buddha di seluruh dunia. Tembok yang mengelilingi sekitar pohon tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Kirthi Sri Rajasingha, untuk melindunginya dari gajah liar yang ungkin dapat merusak pohon tersebut.

Pohon tersebut merupakan cabang pohon bagian selatan dari Pohon Sri Maha Bodhi di Bodhgaya di India dimana Buddha mencapai Pencerahan. Pada abad ke-3 SM, pohon beringin Buddha (Pohon Bodhi) dibawa ke Sri Lanka oleh Sanghamitta putri Raja Asoka dan pendiri Sangha Bhikkhuni di Sri Lanka. Pada tahun 249 SM, Sri Maha Bodhi ditanam di Taman Mahameghavana di Anuradhapura oleh Raja Devanampiyatissa.

H. Ratu Tissarakkha Berusaha Menghancurkan Pohon Bodhi

Pada tahun keduapuluh sembilan masa pemerintahan Raja Asoka, Ratu Asandhimitta meninggal dunia dan empat tahun kemudian Ratu Tissarakkha diangkat sebagai permaisuri utama. Pada masamasa ini Raja Asoka semakin taat melakukan penghormatan kepada pohon Bodhi hingga ia memerintahkan agar permata-permata yang terbaik dikirimkan untuk persembahan kepada pohon Bodhi. Namun Ratu Tissarakkha menyangka pohon Bodhi adalah wanita lain yang disukai oleh raja. Ia berpikir, “Walaupun aku adalah permaisuri utama di istana dan raja memuaskan kesenangannya bersama diriku, tetapi ia mengirimkan semua permata yang terbaik kepada wanita lain yang bernama Bodhi.”

Oleh sebab itu ia memanggil wanita Matanga yang terkenal sebagai ahli sihir untuk menghancurkan “Bodhi”, saingannya tersebut. Setelah diberikan sejumlah uang, wanita Matanga tersebut mengucapkan mantra-mantra lalu mengikatkan seutas benang pada pohon Bodhi; perlahan-lahan pohon Bodhi pun menjadi layu. Kabar bahwa pohon Bodhi layu dan mengering menyebabkan Raja Asoka jatuh pingsan. Setelah sadar, raja dengan terisak-isak berkata, “Ketika aku melihat raja pepohonan tersebut, aku tahu aku sedang melihat Sang Buddha itu sendiri. Jika itu pohon Sang Guru itu mati, aku juga pasti berakhir!”

Ketika melihat raja diliputi kesedihan, Ratu Tissarakkha berkata, “Yang Mulia, bahkan jika Bodhi benar-benar meninggal, bukankah masih ada aku yang dapat memberikan kesenangan kepada Baginda?”

“Wanita bodoh! Bodhi bukan wanita, melainkan pohon di mana Sang Bhagava mencapai Penerangan Sempurna yang tiada bandingnya.”

Akhirnya Ratu Tissarakkha menyadari kesalahannya. Ia memanggil kembali sang wanita Matanga dan menanyakan apakah mungkin untuk mengembalikan kondisi pohon Bodhi seperti semula. “Jika masih terdapat beberapa tanda kehidupan yang tersisa, aku dapat menghidupkannya kembali,” jawab wanita penyihir tersebut.

Kemudian wanita Matanga itu melepaskan ikatan benang disekeliling pohon Bodhi, menggali tanah di sekelilingnya, dan menyiraminya dengan seribu kendi susu setiap hari; setelah beberapa lama pohon Bodhi tumbuh seperti semula. Kabar ini membuat raja kembali bergembira.

I. Kematian Arahat Mahinda dan Sanghamitta

Dengan sifat kebajikannya yang maha suci, belas kasihan, berhati-hati, dan kebaktiannya terhadap agama, Sanghamitta Theri membuat dirinya dicintai oleh orang dinegeri ini. Seperti dengan saudaranya Maha Mahinda Beliau merupakan tokoh yang bersemangat dan sebuah figur seorang Arahat. Maha Mahinda dan Sanghamitta hidup lebih lama dari Raja Devanampiya selama empat puluh tahun.

Y.M. Mahinda meninggal tahun ke-8 dari pemerintahan Uttiya, adik pengganti raja Devanampiya, pada usia tua yaitu 80 tahun, ketika ia sedang menjalankan vassa disebuah cetiya sebuah gunung. Raja Uttiya menyelenggarakan upacara kremasi dengan sangat hormat dan hikmat. Sejumlah Stupa dibangun untuk relik, yang merupakan sisa-sisa dari badan jasmani Arahat Mahinda, salah satunya dari stupa itu dibangun di Mihintale dimana Maha Mahinda paling banyak menghabiskan waktunya disana. Y.A Sanghamitta Theri meninggal satu tahun kemudian pada usia 79 tahun, ketika ia tinggal di vihara yang penuh ketenangan (Hatthalhaka). Upacara kremasi dilakukan oleh raja Uttiya dengan penuh hormat dan hikmat di satu tempat tidak jauh dari pohon Bodhi. Disana dibangun sebuah monumen.

J. Sumber-sumber Sejarah Agama Buddha di Sri Lanka (Ceylon )

Sumber-sumber pokok sejarah agama Buddha di Ceylon terdiri dari:

a. Kitab-kitab agama

Kitab-kitab agama dalam bahasa Pali yang menyangkut Dhamma dan Vinaya serta kitab-kitab komentar (Atthakatha) mengungkapkan kehidupan Sangha. Meskipun kitab-kitab itu merupakan bukti bukti mengenai perkembangan kitab-kitan Pali pada awal perkembangan agama Buddha di India dan Ceylon, perlu diperhatikan bahwa kitab-kitab tersebut baru mempunyai bentuk yang lebih pasti ketika komentar kitab Tipitaka dalam bahasa Sinhala diterjemahkan ke dalam bahasa Pali (Magadhi) oleh Buddhaghosa pada abad kelima Masehi.

b. Maklumat raja Asoka

Maklumat-maklumat raja Asoka pada abad ketiga sebelum Masehi merupakan sumber sejarah yang memberikan informasi akurat untuk memperoleh gambaran keadaan sosial dan keagamaan di India. Latar belakang kebudayaan India tersebut akan melengkapi sejarah agama Buddha di Ceylon yang terjadi setelah pengiriman Dharmaduta dari Pataliputra ke Ceylon.

c. Inskripsi dari Ceylon

Catatan-catatan (tertulis) di Ceylon dijumpai setelah agama Buddha diperkenalkan ke negeri ini pada abad ketiga SM. Namun hanya merupakan tulisan ringkas yang dipahatkan pada dinding gua tempat tinggal para Bhikkhu, misalnya “Demikianlah gua dipersembahkan kepada Sangha”. Inskripsi lain yang juga dipahatkan pada batu mewartakan tentang tempat-tempat penyimpanan air (waduk), saluran, pajak air dan sarana-sarana lain untuk memelihara kehidupan para bhikkhu dan Vihara dijumpai pada abad pertama sebelum masehi.
Inskripsi yang lebih bernilai yang menyangkut bidang administrasi dari keviharaan dan pemerintahan lokal, hukum-hukum dan adat istiadat baru diperoleh setelah abad Sembilan Masehi.

d. Kitab-kitab Pali

Kitab Dipavamsa adalah kitab agama Buddha berbahasa Pali tertua di Ceylon. Bentuknya yang sekarang diduga berasal dari abad keempat Masehi yang kemudian ditulis Budhaghosa pada awal abad berikutnya. Kitab ini diawali dengan riwayat sang Buddha secara singkat dan kunjungan beliau ke Ceylon dan diakhiri dengan pemerintahan raja Mahasena pada abad ke-4 SM.
Menilik bahasa, gaya bahasa, tata bahasa dan pengulangan-pengulangan serta tidak adanya sistematika pada kitab Dvipavamsa, hal itu memberikan dugaan bahwa kitab ini bukan karya seseorang melainkan kumpulan dari hal-hal yang dikumpulkan pada waktu yang berlainan di Ceylon.

Kitab Mahavamsa

Bagian pertama kitab ini dihimpun oleh thera Mahanama yang hidup pada zaman pemerintahan Dighasandasenapti di Anuradhapura kira-kira abad kelima Masehi. Bagian kedua ditulis oleh thera Dhammakitti pada abad ketiga belas Masehi. 
Kitab ini didasarkan pada beberapa sumber. Mahavamsa mengatakan bahwa ada sebuah riwayat yang penuh dengan kesalahan seperti pengulangan dan uraian yang tidak perlu yang ditulis oleh leluhur. Kita tidak dapat menduga yang dimaksud oleh Mahavamsa mengingat kitab Dipavamsa bukanlah satu-satunya kitab yang bersumber pada sejarah.

Baik Dipavamsa maupun Mahavamsa bukanlah kitab sejarah Ceylon melainkan sejarah agama Buddha di Ceylon, yang merupakan bagian sejarah dari negeri ini. 
Mahavamsa Tika sebagai komentar dari kitab Mahavamsa tidak diketahui mengapa penulisnya member judul demikian pada kitab ini. Penulisnya yang tertulis dalam kitab adalah Vamsatthappakasini yang bergelar Padyapadoruvamsa-vannana, tetapi secara traditional ditulis oleh bhikkhu Mahanama.

e. Kitab-kitab komentar Pali

Komentar-komentar dalam bahasa Pali yang ditulis oleh Budhaghosa ketika berdiam di Mahavihara (Anuradha-pura) pada abad kelima Masehi merupakan sumber sejarah yang berharga untuk merekonstruksi sejarah agama Buddha di Ceylon dari abad 3-5 Masehi.

Oleh Budhaghosa (penulis komentar Tripitaka) dikatakan bahwa Tripitaka yang dibawa oleh Thera Mahinda ke pulau ini adalah dalam bahasa Sinhala dan kemudian ditulis dalam bahasa setempat untuk kepentingan rakyat Sinhala. Komentar Tripitaka dalam bahasa Sinhala dijumpai dalam Maha-Atthakatha dan Maha-Paecari serta Kurundi sekarang sudah tidak dijumpai lagi, namun ringkasannya dalam bahasa Sinhala terdapat di dalam kitab Dhampiya-Atuva-Gatapadaya.

f. Cerita-cerita Rakyat

Beberapa cerita rakyat yang mempunyai hubungan dengan agama Buddha antara lain:

- Sahassabatthu-Atthakatha

- Sahassvatthuppakarana

- Rasavahini

g. Lain-lain kitab dalam Pali maupun Sinhala

- Mahabodhivamsa, menceritakan tentang cangkokan dahan pohon Bodhi yang ditanam di Anuradhapura.

- Dathavamsa, sejarah tentang relik gigi sang Buddha.

- Nikayasangraha berisi sejarah singkat agama Buddha dari saat Mahaparinibbana higga pemerintahan raja Bhuvanaikabahu V (1360-1391) dari Ceylon.

- Pujavaliya, Rajavaliya, Rajaratnakaraya, Thupavamsa dan Dhatuvamsa.

K. Keadaan Sosial Budaya Sebelum Kedatangan Agama Buddha


Pada umumnya pusat-pusat pemukiman penduduk Ceylon sebelum kedatangan agama Buddha adalah kampong-kampung yang disebut “gama” dengan pemimpinnya “gamani”. 
Pandukabaya (377-307 SM) adalah seorang pemimpin yang mengembangkan Anuradhagama (didirikan oleh Anuradha, kakek Pandhukabaya) menjadi suatu “nagara” atau kota yang kemudian dikenal sebagai Anuradhapura. Kitab Mahavamsa tidak memberikan perbedaan tentang perbedaan Negara dan gamana. Anuradhapura sejak zaman Pandukhabaya selama dua belas abad menjadi ibukota dan pusat kegiatan pemerintahan Sri Lanka.

Di Ceylon agama Buddha aliran Theravada mengambil bentuk sistem religio sosial lengkap. Dari Ceylonlah pada abad ke-11 aliran Theravada pembaharu menyebar ke Asia Tenggara. Selain memiliki (mendekati) keaslian, sejarah agama Buddha aliran Theravada ini mengalami berbagai perjuangan menghadapi agama Hindu dan berbagai aliran dalam agama Buddha sendiri.

Pengaruh Mahayana demikian kuatnya pada abad ke-4 dan pada abad ke-8 berbagai aliran agama Buddha telah menjadi kekuatan yang cukup besar di pulau ini yang memberikan dampak untuk perkembangan Mantrayana di Ceylon seperti halnya di India dan China.

Di bawah pemerintahan raja Tamil dari India Selatan (abad 9-11), agama Buddha Sinhala tidak diberi kesempatan oleh agama Hindu dan Mantrayana untuk berkembang. Tiga kali dalam sejarah Ceylon, agama Buddha aliran Theravada harus diperbaharui oleh bhikkhu asing. Pertama abad 11, kedua abad 15 ketika bhikkhu Birma datang ke Ceylon, serta pada abad 18 ketika bhikkhu dari Thailand (Ayutis) datang untuk memperbaharui ajaran-ajaran yang ada.

Agama Buddha yang mengembangkan akarnya di Ceylon sejak datangnya bhikkhu Mahinda (putra raja Asoka) dengan enam orang siswanya. Mereka dikirim selaku dharmaduta dan berhasil menggerakan dan memperoleh dukungan dari raja Devanampiya Tissa dan banyak bangsawan memeluk agama Buddha. Pada masa pemerintahan raja Tissa vihara Mahavira dibangun sebagai lembaga dan pusat agama Buddha Theravada.

Setelah raja Tissa wafat (207 SM), Ceylon dikuasai dan diperintah oleh bangsa Tamil sampai munculnya keturunan raja Tissa, Dutthagamani (101-77 SM), berhasil menumbangkan kekuasaan raja Elara dari Tamil. Sejak itu hingga sekarang ini sebagai reaksi dari bangsa Tamil, di Ceylon terjadi persaingan antara agama Buddha nasionalisme Sinhala. Boleh jadi keadaan tersebut merupakan faktor yang mendorong keputusan untuk menuliskan Kitab Suci Tipitaka dalam bahasa Pali.

Pada sisi lain perkembangan agama Buddha yang terjadi di India telah sampai pula di Ceylon. Di bawah pemerintahan raja Vattagamani Abhaya (abad pertama sebelum Masehi) dibangun vihara Abhayagiri yang menjadi pusat gerakan kaum Mahayana di Ceylon. Kecenderungan yang beragam yang muncul dalam agama Buddha ini berlangsung dalam beberapa abad dan hal itu menimbulkan pertentangan dan pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang muncul mendapat dukungan dari raja Mahasena (276-303).

Raja Meghavarna (putra raja Mahasena) membawa relic gigi sang Buddha ke Abhayagiri dan dijadikan benda keramat nasional.

Selain mengembangkan dan menuliskan kitab-kitab agama dalam bahasa Pali, ajaran Theravada adalah yang paling dikumandangkan oleh para siswa Buddhaghosa pada abad ke-5. Pembaharuan dalam agama Buddha secara politis terjadi pada abad 11 ketika raja Vijayabahu membentuk lembaga Sangharaja yang bertugas mengatur vihara-vihara di Ceylon dengan cara memperjelas peraturan-peraturan yang berlaku.

Pada masa pemerintahan raja Kittisiri Rajaseha (1747-1781), peraturan-peraturan tentang agama dan aliran (sekte) diperbaharui kembali oleh bhikkhu yang diundang dari Thailand. Kedatangan bhikkhu Burma dan Thailand yang berperan dalam pembaharuan agama Buddha telah mendorong sangha di Ceylon terbagi-bagi. Meskipun sangha-sangha tersebut tetap berpegang pada Tripitaka yang sama, namun masing-masing berbeda dalam menafsirkan dan melaksanakan Vinaya.

Aliran-aliran agama Buddha yang terdapat di Ceylon tersebut secara sosiologis dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

a) Siam Nikaya (berdiri abad 18), merupakan kelompok konservatif yang kebanyakan anggotanya berasal dari kalangan bangsawan.

b) Amarapura (berdiri abad 19) yang anggotanya berasal dari berbagai kalangan.

c) Ramanna, sebagai pecahan pembaharuan dari Siam Nikaya.



BAB III
PENUTUP

Maha Mahinda adalah putra Raja Asoka yang dipercayakan dengan misi menyebarkan Buddha Dharma menuju Sri Lanka. Mahinda bersama dengan saudarinya Sanghamitta sebagai anggota Sangha dan membuat raja Devanampiya Tissa bersama pengikutnya menganut agama Buddha. Maha Mahinda juga yang memerintahkan bhikkhuni Sanghamitta membawa cangkokan pohon Bodhi. Di hadapan Bhikkhu Mahinda, Bhikkhuni Sanghamitta, dan para bangsawan lainnya, Raja Devanampiya Tissa menanam pohon Bodhi pada petak yang telah ditentukan. Pohon tersebut ditanam dengan upacara yang megah di Taman Mahameghavana di Anuradhapura dan menerima penghormatan dari jutaan umat. Penanaman cangkokan pohon Bodhi dari Buddha Gaya yang masih hidup sampai saat ini sehingga merupakan pohon bersejarah yang tertua di dunia.

Ketika Maha Mahinda telah menanam keyakinan di negeri ini dan terdapat Bhikkhu Sasana, muncul usaha dari kaum wanita untuk masuk kedalam persaudaraan para Bhikkhuni. Ratu Anula dan para wanita lainnya ingin ditahbiskan sebagai bhikkhuni, namun Bhikkhu Mahinda dan para bhikkhu lainnya tidak dapat menahbiskan mereka karena penahbisan bhikkhuni harus dilakukan oleh Sangha Bhikkhuni. Selain itu, Raja Devanampiya Tissa juga ingin menanam pohon Bodhi di ibukota Anuradhapura. Oleh sebab itu, Bhikkhu Mahinda meminta Raja Devanampiya Tissa mengirim pesan kepada Raja Asoka untuk mengundang Bhikkhuni Sanghamitta dan mendatangkan cabang dari pohon Bodhi.

Sanghamitta memberikan upasampada tidak hanya kepada putri Anula dan anggota kerajaan serta kelompok masyarakat yang tertinggi, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat yang bergabung dalam sangha Bhikkhuni. Dengan seluruh kekuatannya Sanghamitta mengangkat derajat kehidupan kaum wanita menjadi lebih tinggi. Dengan kesetiaan, keberanian, dan tak putus-putusnya ia bekerja untuk meningkatkan moral, intelektual, dan spiritual kaum wanita dinegeri ini.

Demikianlah akhirnya Buddha Dhamma dapat berkembang di Sri Lanka lengkap dengan Sangha Bhikkhu dan Sangha Bhikkhuni-nya.

DAFTAR PUSTAKA
Akira, Hirakaya. 2007. A History of Indian Buddhism: From Sakyamuni to Early Mahayana. Delhi: Motilal Banarsidass Publisher
Ariyakumara. 2013. ASOKA. Dhammacitta Press
Thera, Piyadassi. 2010. The Story of Mahinda, Sanghamitta, and The Sri Maha Bodhi. Sri Lanka: Buddhist Publication Society
Tim Penyusun. 2003. MATERI KULIAH SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi
Widya, Dharma K. 2005. KOMPILASI ISTILAH BUDDHIS. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda


Selasa, 18 November 2014

Buddhisme di Zaman Modern (Ajaran Buddha Selaras dengan Ilmu Pengetahuan)

A. Pendahuluan

Apakah ajaran Buddha sesuai dalam dunia modern ini? Kesesuaian ajaran Buddha dalam kehidupan modern dibandingkan dengan kesesuaiannya pada kehidupan secara umum cukup menarik. Apakah ada hal yang istimewa tentang kehidupan modern ini? Tentu saja sekarang ada telepon seluler dan teknologi lainnya. Ajaran Buddha memiliki sesuatu untuk ditawarkan dan sesuai di semua zaman, bukan hanya zaman kita ini saja.

Ajaran Buddha telah membimbing umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu. Ajaran Buddha membebaskan manusia dari segala perbudakan dan praktik takhayul. Oleh sebab itu, agama Buddha dianggap sebagai agama yang ilmiah. Agama yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan arus modernitas. Sang Buddha telah menunjukkan cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatan pikiran dan akal budi untuk menemukan kebahagiaan abadi. Beliau telah membuktikan kepada dunia melalui pengalaman-Nya sendiri dan bukan melalui teori-teori, kepercayaan belaka, maupun praktik-praktik tradisional. Ajaran-Nya adalah suatu kebenaran universal sehingga siapa saja dapat menjalankannya tanpa menyandang merek agama tertentu.

Dari sudut pandang ajaran Buddha, kebenaran tidak memiliki batasan. Kebenaran bukanlah milik suatu agama atau individu tertentu. Sang Buddha membabarkan kebenaran bukan karena ia yang menciptakan. Beliau semata-mata hanya menemukan dan melihat dengan jelas kebenaran tersebut. Kebenaran ajaran Buddha selaras dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi. Keduanya memiliki tujuan untuk melihat kebenaran dan fakta sebagaimana mestinya. Banyak aspek dalam ajaran Buddha yang masih eksis di zaman modern. Bahkan tidak hanya di zaman modern seperti ini saja, ajaran Buddha sesuai dengan kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Prinsip-prinsip ajaran Buddha juga tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Hanya saja, pada zaman dahulu sang Buddha mengatakan dengan bahasa dan istilah yang berbeda. Sang Buddha menjelaskan sesuatu dengan perumpamaan-perumpamaan sebagai perbandingan.

B. Pembahasan

1. Sikap Buddhisme terhadap Pengetahuan

Pentingnya ilmu pengetahuan ditekankan pada agama Buddha. Terdapat beberapa sutta yang mendukung tentang ilmu pengetahuan. Memiliki pengetahuan luas dan keterampuilan adalah berkah utama (MaƄgala Sutta).

Dalam Natha Sutta, Dasakanipata, Anguttara Nikaya; Buddha menyatakan bahwa dengan memiliki pengetahuan luas, seseorang berarti telah membuat pelindung bagi dirinya sehingga dapat terhindar dari kehidupan yang penuh penderitaan.

Apabila seseorang memiliki pengetahuan yang luas maka kebijaksanaan pun tercapai. Dan ketika seseorang mengembangkan kebijaksanaanya berarti ia telah menjadi pelindung bagi dirinya sendiri. Dengan begitu ia akan menghindari perbuatan buruk yang dapat merugikan diri sendiri. Sehingga dalam dirinya akan memiliki tekad untuk selalu mengembangkan pengetahuan. Sekecil apapun pengetahuan akan bermanfaat kelak kemudian hari.

(Khuddaka-Nikaya 817) semua ilmu pengetahuan, baik yang kelas tinggi, sedang, ataupun rendah, patut dipelajari, diketahui dan dipahami maknanya, walaupun tidak seluruhnya perlu diterapkan seketika, karena suatu hari kelak bila tiba saatnya, pengetahuan itu mungkin membawa manfaat. Namun pengetahuan dan moralitas patut dijaga keseimbangannya (AN.II.8).

Terlihat jelas bahwa dari zaman Buddha masih hidup, ilmu pengetahuan dari berbagai tingkatan patut dipelajari. Baik yang kelas rendah sampai tinggi hendaknya diketahui maknanya. Semua pengetahuan memiliki manfaat, walaupun tidak dapat diterapkan secara sekaligus. Ajaran Buddha sangat terbuka dengan ilmu pengetahuan. Sang Buddha selalu mengajarkan ehipassiko, atau dalam sains disebut dengan observasi.

Dalam Kalama-sutta, Buddha memberi nasihat kepada warga suku Kalama:

Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis dalam kitab-kitab suci, juga apa yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka, juga apa yang katanya telah direnungkan dengan saksama, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormati seorang petapa yang menjadi gurumu… tetapi terimalah kalau engkau sudah membuktikannya sendiri…

Sikap pemikiran demikian disebut “Ehipassiko” yang berarti “datang dan lihatlah”.

Sang Buddha selalu menekankan konsep ehipassiko kepada murid-muridnya. Datang, lihat dan buktikan. Jangan percaya begitu saja dengan apa yang di dengar ataupun yang ditulis pada kitab suci. Isi dari kitab suci tersebut belum tentu suatu kebenaran. Jangan lakukan tradisi turun temurun walaupun cocok dengan pandangan kita tanpa tahu makna sebenarnya. Sebagai seorang yang bijaksana sebaiknya teliti lagi dengan cara ehipassiko. Dengan demikian, akan terhindar dari pandangan salah.

Buddha juga mengajarkan hal yang sama kepada Upali, seorang penganut kepercayaan lain yang ingin berpindah menjadi pengikut Buddha. (Upali-sutta, sutta ke-56 dari MN), Buddha mengatakan, “telitilah dahulu secara sempurna, wahai Upali, karena adalah baik bagi orang terkemuka seperti Anda, untuk meneliti telebih dahulu secara sempurna.”

Buddha tidak langsung menerima Upali begitu saja, melainkan menganjurkannya untuk melakukan penelitian (observasi) terlebih dahulu secara saksama. Dengan kata lain, Buddha menganjurkan kita untuk bersikap kritis terhadap sesuatu yang baru dan belum teruji. Sikap kritis tersebut membuat kita lebih berhati-hati untuk mengambil kesimpulan dan mendorong kita menganalisis lebih mendalam terhadap hal-hal yang baru. Sejarah sains mencatat bahwa banyak penemuan besar dihasilkan dari sikap kritis semacam itu. Apa yang sudah menjadi pendapat umum sekalipun belum tentu mewakili kebanaran mutlak atau dengan kata lain bukan sesuatu yang harus dipercayai begitu saja.

2. Akibat dari Sikap terhadap Ilmu Pengetahuan

Semangat Ehipassiko seperti yang tercermin dalam Kalama-sutta menyebabkan Buddhis lebih terbuka terhadap perkembangan baru di dunia sains. Seandainya suatu penemuan baru sains terbukti bertentangan dengan doktrin Buddhis tertentu, maka Buddhis lebih siap mengadopsi penemuan sains dan tidak menanggapinya dengan sikap antagonis. Ini tercermin dari perjalanan sejarah agama Buddha yang tidak pernah mengalami konflik dengan dunia sains.

Albert Einstein (1879 - 1955) “Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, itu adalah ajaran Buddha.”

3. Buddhisme di Zaman Modern

Buddhisme adalah salah satu ajaran yang masih sesuai dengan sains. Sang Buddha telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para siswanya sebelum para ilmuwan menemukannya. H.G. Wells (1866-1946) menyimpulkan “Buddhism has done more for the advance of world civilization and true culture than any other influences in the chronicles of mankind.” Yang berarti “Buddhis telah memberikan sesuatu yang lebih untuk kemajuan peradaban dan kebudayaan manusia, dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya dalam sejarah kehidupan manusia.” Banyak ajaran-ajaran yang berkembang di dunia, namun hanya ajaran Buddha yang mampu membawa kemajuan.

Kini sains telah berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi di berbagai dunia. Berbagai kecanggihan teknologi informasi diciptakan dari pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Terciptanya bermacam media komunikasi memudahkan mengakses berita secara cepat. Keberadaan media komunikasi saat ini menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan dari manusia. Oleh sebab itu munculah berbagai sarana komunikasi yang diharapkan mampu mempercepat proses penyebaran informasi. Salah satunya ialah internet, media ini merupakan bentuk sarana komunikasi yang paling efektif saat ini didalam mensosialisasikan informasi kepada masyarakat banyak. Selain itu internet juga menjadi salah satu ujung tombak bagi percepatan penyebaran informasi kepada masyarakat. Dengan internet, hambatan geografis, iklim/cuaca dan lain-lain tidak menjadi penghalang berarti bagi tersebarnya informasi tersebut ke khalayak ramai. Kontrol sosial yang dilakukan melalui internet ini dapat dispesifikasikan lagi dalam beberapa hal, contohnya melalui blog, web, atau melalui jejaring sosial dalam internet.

Media sosial adalah sebuah media untuk bersosialisasi secara online yang dapat menjangkau berbagai belahan dunia. Salah satu jejaring social yang paling diminati masyarakat ialah Facebook. Sistemnya yang mudah di mengerti ini telah menjadi suatu kebutuhan yang sangat melekat dalam kehidupan manusia. Tidak hanya para remaja bahkan anak kecil dan para orang tua pun tidak luput dari sasaran. Buddhisme saat ini telah memanfaatkan internet untuk kemajuan Buddha-Dharma. Berbagai blog, web, maupun media sosial dibuat untuk ajang pembabaran Dharma. Melalui kemajuan teknologi yang modern ini, Dharma bisa diajarkan secara praktis kepada umat Buddha. Banyak naskah Dharma yang telah di unggah di situs-situs web buddhis. Saat ini pun para bhikkhu telah menggunakan facebook untuk sharing Dharma. Umat Buddha pun dapat dengan mudah mengakses internet untuk mendapatkan informasi tentang ajaran Buddha. Cara ini dinilai cukup efektif dan efisien bagi para perumah tangga yang tidak sempat mendengarkan khotbah Dharma dari Bhikkhu. Disela kesibukannya, mereka bisa membaca khotbah Buddha tanpa memerlukan waktu yang lama. Mereka juga dapat mengunduh video-video ceramah Bhikkhu dari You Tube.

4. Peran Buddhisme dalam Mengatasi Dampak Negative Internet

Dalam Era Globalisasi yang ditandai dengan makin maraknya arus informasi dan perkembangan IPTEK yang berdampak pada kehidupan yang penuh perubahan, tantangan bukan saja berdampak positif tetapi juga banyak dampak negatif seperti korupsi, kolusi monopoli, kerusuhan dan sebagainya, maka sangat penting dalam kehidupan ini untuk dapat mengendalikan diri, sehingga luput dari keinginan, nafsu dan godaan-godaan tersebut.

Peranan buddhisme dalam mengatasi dampak negative ini dapat dilakukan dengan mengikis akar kejahatan yaitu lobha, dosa, dan moha. Dengan menumbuhkan alobha, adosa dan amoha, kita bisa mengembangkan kebijaksanaan. Adanya hiri dan ottapa didalam diri dapat menghindarkan diri dari perbuatan jahat. Hiri ialah perasaan malu berbuat jahat. Apabila seseorang malu untuk melakukan kejahatan, maka segala dampak negative seperti KKN dan kerusuhan lainnya bisa dihindari. Sedangkan ottapa ialah perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahat. Buddhisme mengenal adanya hukum karma, barang siapa yang menabur benih maka ia yang memetik hasilnya. Jika seseorrang menabur benih keburukan, maka ia akan memetik keburukan. Demikian sebaliknya, apabila menabur benih kebaikan, maka akan memetik hasil yang baik. Hukum karma ini membuat seseorang mengetahui hasil yang akan ia dapat. Oleh karena itu, seseorang akan takut berbuat jahat.

Selain itu, ada pula jalan mulia berunsur delapan yang dapat menjadi pedoman pengendalian diri. Seperti pandangan benar dan pikiran benar. Dengan memiliki pandangan benar dan pikiran benar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dari hal negative yang ada di internet. Ia yang memiliki kebijaksanaan dalam pandangan benar dan pikiran benar akan menghindari situs-situs pornografi dan hal asocial lainnya.

B. Penutup

1. Kesimpulan

Ajaran Buddha tidak dibangun berdasarkan keyakinan pada suatu kekuatan adikodrati yang mencipta dan mengatur nasib manusia tetapi berdasarkan hukum kausalitas. Agama Buddha menghargai kebebasan berpikir dan verifikasi melalui pengalaman. Karena itu keyakinan dalam agama Buddha bersifat rasional, tumbuh berdasatkan kebijaksanaan yang bersih dari takhayul.

Ajaran Buddha telah membimbing umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu. Ajaran Buddha membebaskan manusia dari segala perbudakan dan praktik takhayul. Oleh sebab itu, agama Buddha dianggap sebagai agama yang ilmiah. Agama yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan arus modernitas.

Mengenai pentingnya keselarasan dan perpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan, Albert Einstein mengatakan,” Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta.” Ilmu pengetahuan bersama agama seperti Buddhisme bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih tenteram dan membahagiakan untuk ditinggali.